Internasional

Bupati Meranti Resmikan Festival Perang Air 2019

Jumat, 08 Februari 2019 - 00:22:50 WIB | dibaca: 20 pembaca

SELATPANJANG - Bupati Kepulauan Meranti Drs. H. Irwan M.Si membuka secara resmi Festival Perang Air, pembukaan kegiatan yang berhasil menyedot ribuan wisatawan lokal maupun manca negara tersebut dipusatkan di jalan Ahmad Yani, Selatpanjang, Kamis (7/2/2019).

Turut bergembira dalam Festival Perang Air atau yang lebih dikenal dengan sebutan 'Cian Cui' oleh masyarakat Tiong Hoa Selatpanjang, Bupati Meranti bersama Hj. Nirwana Sari Irwan, Perwakilan dan Kementrian Pariwisata, Anggota DPR RI H. Jon Erizal, Wakil Ketua DPRD Riau H. Sunaryo, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Fahmizal M.Si, Kapolres Meranti AKBP. La Ode Proyek, Inisiator Perang Air Mantan Kapolres Meranti AKBP. Pandra, Uyung Meranti, Anggota DPRD Meranti Lindawati, Darwin, Kepala Dinas Pariwisata Meranti Rizki Hidayat, Kabag Humas dan Protokol Meranti Hery Saputra, Kabag Perbatasan Efieldi, Ketua GenPI Provinsi Riau Asvian Putra, Perwakilan MURi, Putri Indonesia Riau, dan tamu lainnya.

Pembukaan Perang Air ditandai dengan pelepasan balon ke udara oleh Bupati Kepulauan Meranti didampingi anggota DPR RI Jon Erizal yang dilanjutkan dengan penembakan senapan air pertama oleh Bupati dan rombongan.

Sekedar informasi dalam kegiatan itu Wakil Bupati juga berkesempatan menyerahkan penghargaan kepada para inisiator Festival Cian Cui kepada Mantan Kapolres Pandra yang kni bertugas di Mabes Polri AKBP. Zahwani Pandra Arsyad, Istri Almarhum Pendi yang juga Angota DPRD Meranri Linda Wati, Anggota DPRD Meranti Darwin dan Uyung Meranti.

Dalam sambutannya Bupati Kepulauan Meranti H. Irwan M.Si mengungkapkan, Festival Perang Air yang berhasil meraih Penghargaan Pesona Indonesia Kategori Ivent Wisata Paling Kreatif dan Populer di Indonesia itu sama sekali buka ritual agama tetapi merupakan kebiasaan dari masyarakat Meranti tempo dulu dalam menyemarakan Hari Raya Idul Fitri dengan melakukan siram-siraman air, berangkat dari kebiasaan itu diadopsi oleh masyarakat Tiong Hoa dengan Perang Air atau yang dikenal dengan Cian Cui seperti saat ini. 

"Jadi Perang Air ini bukan Ritual Agama tetapi lahir dari kebiasaan masyarakat sejak puluhan tahun lalu yang diadopsi oleh masyarakat Tiong Hoa, dan ini merupakan wujud kebinekaan itu," jelas Bupati.

Perang Air ditambahkan Bupati merupakan kegiatan kegembiraan seluruh warga Kepulauan Meranti, baik yang berasal dari suku Melayu atau Suku Tiong Hoa dan suku lainnya. Semuanya berbaur menjadi satu berhembira menikmati suasana Perang Air yang hanya dilaksanakan sekali dalam setahun.

"Perang Air ini tidak ada kaintannya dengan agama apapun apakah Budha, Konghucu, Perang Air merupakan kebiasaan warga Selatpanjang yang dimainkan pada dua hari raya yakni Idul Fitri dan Imlek namun seiring dengan berjalannya waktu Perang Air pada perayaan Imlek jauh lebih meriah dan tiap tahun semakin ramai," jelas Bupati.

Untuk terus mengembangkan Cian Cui sebagai langkah awal Bupati Irwan mengajak masyarakat menyatukan persepsi dengan pemerintan bagaimana membuat ivent ini (Cian Cui.red), menjadi ramai dan terkenal didunia. Sehingga orang mau berbondong-bondong datang ke Meranti dan mampu memberikan multyplier efek positif yang luar biasa bagi Meranti khususnya dalam peningkatan ekonomi masyarakat.

"Dampak dari Perang Air ini sangat luar biasa Hotel Hotel penuh, rumah makan dan transportasi becak ramai, tiket kapal habis, serta pusat pusat perbelanjaan ramai dsn tentunya ini sangat menguntungkan bagi masyarakat," ujar Bupati.

Bupati tidka menapik masih adanya polemik dan penolakan oleh sebagian masyarakat menyikapi Festival Perang Air ini, hal itu menurut Bupati memberikan dampak negatif bagi kunjungan wisata Meranti. 

"Sebelumnya Duta Besar Thailand, Duta Besar Tiongkok, Taiwan dan Autralia mau datang namun karena adanya isu isu yang menjadi polemik akhirnya mereka membatalkan niatnya ke Meranti," aku Bupati. (Hms) 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)